Pagi ini, langit masih menggantungkan sisa hujan di ujung daun. Jalanan sepi, tapi di balik pintu-pintu tertutup, ada ribuan tangan yang merajut ketupat seperti merajut luka lama jadi pengampunan. Aku duduk di teras, mencium bau sangit dari wajan tembaga yang mewarisi karat zaman—kakekmu mungkin pernah menggoreng rasa bersalah di sana, nenekku mungkin membakar doa di antara gumpalan minyak.
Kamu datang dengan baju baru yang masih berbau toko. Warna hijau lumut, seakan kamu mencoba menyamar sebagai pohon teh-tehan depan rumah. Tapi matamu masih sama: dua kolam bekas hujan yang menyimpan bayangan orang-orang tak sempat berpamitan. Di meja, kopi panas menguap jadi asap putih—hantu-hantu silaturahmi yang tak pernah tuntas.
Kita berpelukan seperti dua arsip yang baru saja ditemukan. Tubuhmu bergetar sebentar, mungkin mengingat dulu kita pernah bertengkar soal siapa yang lebih pantas dapat THR. Sekarang, THR itu hanya angka di rekening yang menguap sebelum syawal usai. Tapi pelukanmu tetap hangat, seperti lampion-lampion di gang sempit yang bertahan meski badan kertasnya bolong-bolong.
Di ruang tamu, kursi kosong berjejer. Yang di pojok kanan masih menyimpan lekuk tubuh ayahmu yang pergi tahun lalu. Kita menghindari menatapnya, tapi bayangannya tetap menari di dinding—siluet yang lebih jujur dari kata-kata “mohon maaf lahir batin” yang kita ucapkan sambil lalu.
Anak-anak berlari dengan uang receh di tangan. Celengan mereka berbunyi seperti lonceng kecil di kuil keserakahan. Tapi tawa mereka—ah, tawa mereka adalah adzan yang sebenarnya. Mengingatkan kita bahwa di suatu masa, kita juga pernah meyakini dunia bisa dibeli dengan permen dan kembang api.
Makan siang disajikan di atas daun pisang yang sobek di ujung. Sambal goreng hati menganga seperti luka yang tak pernah sembuh. Kita makan dalam diam, menyelipkan daging ke nasi seolah-olah menyembunyikan dosa-dosa kecil di antara butir-butir yang suci.
Ketika adzan asar berkumandang, kamu berbisik: “Apa artinya maaf kalau kita tetap akan saling melukai tahun depan?” Aku tak menjawab. Di halaman, pohon jambu menjatuhkan buahnya—bunyi plok yang lebih jujur dari semua kalimat berminyak yang kita ucapkan hari ini.
Malam tiba. Lampu-lampu LED di teras tetangga berkedip seperti kunang-kunang yang kehilangan pasangan. Kamu pulang dengan bungkusan ketupat yang akan basi sebelum esok. Di perempatan jalan, aku melihatmu melintas—bayanganmu menyatu dengan iklan buka puasa yang belum dicopot.
Selamat Lebaran, kawan.
Semoga jalan-jalan kita diterangi genangan air hujan yang memantulkan cahaya bulan,
dan setiap “mohon maaf” bukan sekadar ritual tahunan,
Tapi gugusan kata yang berani mengakui:
bahwa kita semua adalah perampok-perampok kecil
yang mencuri keabadian dari kefanaan.
— Dari seorang yang masih percaya pada debu di sela-sela sajadah