Kamis yang panjang namun singkat

Hari ini aku bangun cukup pagi. Setelah sarapan, aku bergegas menuju kampus. Sesampainya di kampus, seperti biasa aku menaruh tas di loker perpustakaan lalu beranjak ke kantin. Segelas Es Teh tawar dan Marlboro kretek seakan telah menjadi starter-pack-ku untuk memulai hari. Setelah Es Teh tawar dan beberapa batang rokok habis, aku masuk ke perpustakaan.

Di perpustakaan aku mengerjakan revisian proposal penelitian. Ditemani rilisan baru G-Dragon, aku mengkaji ulang dan mengedit beberapa bagian proposal. Teringat pernyataan dosen penguji terkait “payung penelitian” dan peliknya penelitian metafora karena seakan berdiri di dua kaki. Aku memutuskan membaca kembali buku Metaphor we live by-nya Lakoff & Johnson dan Cognitive Linguistic-nya Evan Green. Setelah membaca kembali(beberapa halaman) dua buku tersebut, aku semakin pusing dan merasa tak mengerti apapun. Namun, entah mengapa ada sisi lain dalam diriku yang merasa senang dan penasaran.

Didorong oleh rasa penasaran dan perasaan senang tersebut, aku kembali tenggalam dalam diskursus mengenai metafora. Tanpa terasa, waktu telah beranjak sore. Mendekati jam tutup perpustakaan, aku berkemas dan berniat pulang. Tiba-tiba muncul notifikasi whatsapp. Ternyata dari Mbak Sherly. Beliau meminta bantuanku untuk men-set-up komputer kasir di minimarket tempatnya bekerja. Aku pun bergegas menuju minimarket tersebut. Di luar dugaanku, ternyata men-set-up sistem kasir minimarket tidak semudah itu. Kali ini ada kendala di konektivitas komputer kasir dengan thermal printer. Aku mencoba berbagai hal, bahkan membangun sendiri library untuk thermal printer tersebut.  Hasilnya nihil. Printer tetap tidak terdeteksi di sistem PoS.

Merasa buntu, aku menelepon atasan Mbak Sherly dan memberi saran untuk mengganti thermal printer yang ada dengan thermal printer model lain. Beliau menyetujui saranku, bahkan seketika itu juga langsung membelikan thermal printer baru. Setelah printer baru datang, aku memulai kembali set-up sistem kasir minimarket tersebut. Pukul 20, pekerjaanku selesai. Sistem kasir tersebut berhasil berjalan dengan baik. Aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah.

Di Rumah, aku sempat berbincang sejenak dengan adikku perihal kuliahnya dan ghazwul fikr. Kami juga berbincang beberapa hal terkait bisnis keluarga untuk tugas KWUnya kelak. Perbincangan itu membuatku sadar bahwa aku telah cukup banyak membantu pengelolaan bisnis khususnya terkait marketing-strategic dan start-up building orang lain namun belum pernah sekalipun menggeluti bisnis kecil keluargaku sendiri. Ah, terkadang memang yang dekat mudah terabaikan daripada yang jauh.

Selesai berbincang dengan adikku, aku keluar rumah dan menyulut sebatang rokok. Aku melihat langit, mendung tanpa bintang dan rembulan. Anehnya, aku merasa langit malam ini cukup indah. Entahlah. Setelah habis sebatang rokok, aku kembali masuk ke rumah, meminum obat dan menulis tulisan ini sambil bersiap untuk tidur. Good Night. Have a nice dream!