Hai, dua hari kemarin aku bolos menulis jurnal harian. Lebaran memang menyenangkan, tapi juga melelahkan. Ah, atau barangkali itu sekedar aku mencari alasan. Hari ini aku akan menulis lagi. Seperti bulan-bulan april sebelumnya. Aku selalu menyempatkan diri untuk rewatch anime shigatsu wa kimi no uso. Sebuah anime tentang cinta.
Jadi, mari bicara tentang cinta—lagi—sambil merenung di dalam kamar yang lembab akibat hujan bulan April yang tak pernah berhenti. Seperti biasa, ritual tahunan ini kubuat untuk mengingatkan diri: cinta itu bukan cuma urusan “main bersama” atau bio instagram “milik @blabla ❤️”. Cinta itu seperti musik yang dimainkan Kaori Miyazono: liar, tak bisa dijinakkan, dan seringkali false ending-nya membuat mata berkaca-kaca.
Aku selalu penasaran: kenapa Kōsei dan Kaori tidak pernah “bersatu”? Kenapa tidak ada adegan genggaman tangan, kiss scene, atau janji “aku akan sembuh demi kamu”? Tapi, setelah menonton ke-15 kali(seingatku), baru kumengerti: cinta mereka justru lebih jujur karena tak terjamah. Seperti rembulan yang memantulkan cahaya matahari, Kaori cuma jadi katalis untuk Kōsei—bukan tujuan. Cinta di sini bukan goal, tetapi jalan yang membuat keduanya bebas dari penjara diri masing-masing.
“Cinta tidak memiliki, dan tidak ingin dimiliki. Sebab cinta telah cukup bagi cinta.”
—Kahlil Gibran
Kalau kita bicara dari sudut pandang neuroscience, memang benar: cinta adalah reaksi kimia. Dopamin, oksitosin, dan vasopresin bekerja sama menciptakan ilusi bahwa cinta itu sakral. Tapi, Kaori dan Kōsei mengingatkanku bahwa cinta juga bisa jadi doa yang dibisikkan lewat tuts piano dan gesekan biola. Saat Kaori memainkan Kreisler’s Liebesleid, aku ingat kata Neruda:
“Aku mencintaimu seperti tumbuhan gelap mencintai cahaya: diam-diam, antara bayang dan jiwa yang menggelegar.”
Kaori tahu umurnya pendek, tetapi tetap bermain biola dengan bebas seolah surga akan runtuh esok hari. Kōsei tahu dia mungkin gagal, tapi tetap nekat memencet tuts piano sampai jari berdarah. Ini bukan tentang “aku akan melindungimu”, melainkan “aku akan menghidupkan nyala hidupmu, bahkan jika aku sendiri jadi abu”. Seperti kata Emily Dickinson:
“Cinta adalah api yang hidup di dalam tulang, yang tak bisa dilihat—tapi hangatnya membakar seluruh langit.”
Di suratnya, Kaori menulis: “Aku ingin jadi bagian dari hatimu selamanya.” Cinta yang tak terpenuhi, tapi justru abadi dalam ketidaksempurnaannya. Ini mengingatkanku pada Rumi:
“Cinta adalah jembatan antara kau dan segalanya. Jika kau mencinta, bahkan kematian hanyalah cermin yang retak.”
Kōsei dan Kaori tidak pernah saling memiliki, tapi justru di situlah keindahannya. Seperti dua bintang yang saling tarik-menarik tanpa pernah bertabrakan. Cinta mereka adalah simfoni yang dimainkan dalam jarak: Kaori di panggung sebagai meteor, Kōsei di kursi penonton yang terpaku. Tapi, di antara nada-nada itu, ada rahasia yang hanya mereka berdua tahu.
“Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau dari mana. Aku mencintaimu tanpa rasa bangga atau kesulitan: Aku mencintaimu karena aku tak tahu cara lain.”
—Pablo Neruda, Soneta XVII
Akhirnya, di bawah rintik hujan April ini, aku sadar: cinta Kaori dan Kōsei adalah cinta yang tumbuh di ruang hampa—tanpa udara, tapi tetap menyala seperti supernova. Mereka tidak perlu happy ending, karena seperti kata Gibran:
“Kau mungkin melupakan tawa yang kau bagi, tapi takkan pernah melupakan kesedihan yang kau sembuhkan.”
Dan di akhir, ketika Kōsei bermain piano di bawah sakura yang berguguran, aku teringat pada satu hal: cinta yang tulus tak pernah mati—ia hanya berubah bentuk. Menjadi musik, menjadi kenangan, menjadi hujan di bulan April yang selalu kembali. Lovyu.