Menghidupi Hidup Penuh Rasa Penasaran

Buku Pram

Tulisan ini harusnya aku tulis hari jum’at akhir februari lalu. Namun, hari jum’atku tidak ada yang istimewa dan menarik untuk ditulis. Semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Segelas Es Teh, Marlboro Kretek, dan Perpustakaan Kampus. Oleh karena itu, alih-alih menulis tentang kehidupanku di Hari Jum’at, aku ingin menulis hal lain.

Semua berawal dari ajakan nongkrong seorang teman bernama riski(atau rizky). Meski jarang berkirim pesan, aku dan riski sesekali masih saling berdiskusi tentang satu dan lain hal. Aku lupa kapan tepatnya riski mengajakku bertemu. Seingatku, hari itu adalah hari awal-awal DeepSeek AI trending di jagat maya. Aku yang membuat sebuah status whatsapp tentang jasa instalasi DeepSeek AI di local device ternyata menarik perhatian riski. Kami lalu bertemu di Cold & Brew. Sebuah franchise cafe baru di kota kecilku.

Perbincangan dimulai dengan obrolan seputar teknologi dan peluang-peluangnya di sektor bisnis kreatif. Omong-omong, ketika itu Riski juga mengajak seorang temannya(yang aku lupa namanya, maaf kawan, aku memang pelupa). Kami berbincang mengenai teknologi AI dan pemanfaatannya dalam berbagai hal. Aku juga membantu instalasi DeepSeek AI di laptop milik teman Riski. Latar belakang kami(aku dan Riski) yang bersinggungan dengan teknologi dan perkembangannya membuat trendingnya DeepSeek AI menjadi topik yang menarik.

Setelah membincangkan berbagai hal, sampailah perbincangan kami pada topik tentang kehidupan. Lebih tepatnya hidupku. Perbincangan ini berawal akibat keheranan Riski akan kemampuanku(yang menurutnya aku bisa banyak hal), dan bertanya apa yang membuatku bisa menguasai banyak hal?(Terutama terkait teknologi dan marketing). Aku sendiri yang sejujurnya tak pernah memikirkan kehidupanku selain ketika menghadapi momen-momen exsistensial crisis pun ikut termenung mendengar pertanyaannya. Aku jadi merefleksikan hidupku selama ini.

Curiosity-Driven’s Lifestyle

Setelah kupikirkan, keheranan Riski cukup beralasan. Aku bisa melakukan banyak hal(terutama di bidang teknologi). Mulai dari merakit komputer, memperbaikinya, membangun web, membuat program komputer, membuat program web, servis hp, custom rom hp, bypass hp, pentesting web, membangun sebuah jaringan internet, membuat server virtual, menset-up Remote Desktop Protocol, hingga servis setrika. Selain semua itu, masih banyak hal yang bisa kulakukan dan setelah kupikirkan kembali, semua kemampuan itu kudapatkan secara otodidak dan tanpa sadar(atau lebih tepatnya tanpa niat awal belajar dengan tujuan menguasai skill tersebut). Semuanya kupelajari secara spontan.

Dulu, ketika mendapat komputer pertamaku(era MTs), aku membongkarnya sendiri karena penasaran bagaimana komputer bisa bekerja. Setelah mempunyai modem dan terkoneksi dengan internet, aku mulai mengulik banyak hal tentang internet, hingga tanpa sadar aku belajar tentang dasar-dasar jaringan, bahkan pada saat itu aku mampu memanfaatkan celah sebuah operator dan menggunakannya untuk mengakses internet secara gratis(belakangan kuketahui bahwa kegiatan ini disebut phreaking). Karena rasa penasaranku pula aku sempat terjebak(atau dengan sengaja menjebak diri sendiri) dalam dunia carding.

Beranjak di era SMA, aku mulai tertarik dengan Linux dan Sistem Operasi. Ketika itu awal-awal android mulai meluas dan menguasai pasar. Didorong rasa penasaran aku mampu membuat sebuah custom rom dan mengotak-atik kernel android(meski harus mengorbankan hp smartfren andromax a, satu-satunya hp androidku saat itu). Aku juga mampu membobol wifi.id dan membuat key-generator agar bisa wifian gratis. Di masa itu aku juga mulai tertarik dengan robotika dan membantu seorang kawan yang bersekolah di SMK membuatkan program untuk robot penyiram tanaman otomatis.

Banyak hal kulakukan tanpa niatan yang jelas untuk menguasai hal itu, semuanya terjadi secara spontan. Aku penasaran, mencari tahu, mencobanya, dan aku bisa. Bahkan, di pekerjaanku(sebelum aku resign karena harus menyelesaikan kuliahku), aku yang sebenarnya tidak terlalu menyukai dunia marketing tiba-tiba harus bergelut dengan digital marketing. Setelah menemukan hal yang menarik di dalamnya, tiba-tiba saja aku bisa dan bahkan mampu membangun sebuah tim digital marketing.

Setelah kurenungi kembali, polanya selalu sama. Aku tertarik. Penasaran. Mencari tahu. Mencobanya. Dan aku bisa(meski kemampuanku atau kebisaanku tidak sehebat orang yang benar-benar mendalaminya). Aku rasa aku menang terlahir menjadi seorang generalis. Aku menguasai banyak hal meski tidak mendalam. Semua hanya untuk sekadar memuaskan rasa penasaranku. Aku menyebutnya Curiousity Driven’s lifestyle.

Sialnya, rasa penasaran itu tak terbatas pada bidang yang aku sebut tadi. Dalam beberapa aspek kehidupanku(atau barangkali seluruhnya), aku juga menjalaninya dengan dorongan rasa penasaran. Barangkali rasa penasaran itu juga yang membuatku masuk pada berbagai konsep-konsep filosofis dan berakhir membuatku memiliki gangguan kecemasan dan depresi. Seperti sebuah idiom(yang aku tak tahu kata siapa) :

Curiosity killed the cat

Rasa Penasaran dapat berakibat buruk. Bahkan mungkin kematian. Namun, setelah kupikir kembali(sembari menulis tulisan ini), aku rasa mati akibat mengejar suatu hal yang menarik(membuat penasaran) adalah kematian yang tidak terlalu buruk. Bagiku, serupa potongan lirik Dream Theater :

Better to save the mystery
Than surrender to the secret

Hidup mengejar rasa penasaran adalah hidup yang layak dijalani. Seperti judul buku pram, Aku ingin lihat semua ini berakhir. Cheers 🥂